Follow by Email

Menurut kalian blog Youni itu gimana?

Kamis, April 26, 2012

TUNA NETRA


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
      Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Peserta didik tersebut diharapkan akan menjadi sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, keahlian dan keterampilan yang nantinya dapat meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia dari zaman ke zaman.
      Untuk harapan tersebut diperlukan adanya mutu pendidikan yang layak dan berkualitas yang mampu mempersiapkan peserta didik yang memiliki kemampuan intelektual, emosional, spiritual dan sosial yang bermutu tinggi, sehingga peserta didik mampu mengikuti dan mengatasi segala dampak dari perkembangan zaman,.
      Di Indonesia cita-cita untuk mempersiapkan kualitas SDM tersebut merupakan panggilan konstitusi. Tujuan negara RI yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa tujuan penyelenggaraan pendidikan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab serta berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
1
      Kita juga tahu bahwa semua warga negara mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan begitu juga pada anak yang memiliki kekurangan tuna netra misalnya, meskipun memiliki kekurangan dalam fungsional anggota tubuh, meraka juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan agar mampu menjadi individu yang memiliki potensi dan mampu bersaing dengan anak-anak yang lain dalam hal untuk menuntut ilmu. Di Taman Bimbingan ABEKA, hal ini menjadi stimulus bagi kami sebagai peneliti untuk mengembangkan pendidikan bagi seluruh elemen masyarakat khususnya bagi masyarakat yang memiliki kekurangan tuna netra.
      Berdasarkan latar belakang di atas kiranya sangat menarik untuk diteliti dan diketahui lebih dalam lagi mengenai keadaan dan situasi yang terjadi di Taman Bimbingan Belajar ABEKA Bhakti Luhur Kelurahan pisang candi Kecamatan Sukun.

1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah dari penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.2.1        Apa yang dimaksud dengan tuna netra total?
1.2.2        Apa yang menyebabkan terjadinya tuna netra total?
1.2.3        Bagaimana karakteristik penyandang tuna netra total?
1.2.4        Bagaimana model pengajaran dan bagaimana prinsip-prinsip pengajaran untuk anak tuna netra total?

1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1        Agar peserta didik mengetahui apa itu tuna netra total sehingga peserta didik mampu mensyukuri kondisi yang ada pada dirinya.
1.3.2        Agar peserta didik mengetahui menyebabkan terjadinya tuna netra total sehingga peserta didik mampu berhati-hati untuk menghindari terjadinya tuna netra.
1.3.3        Agar peserta didik mengetahui karakteristik yang terjadi pada penyandang tuna netra total.
1.3.4        Agar peserta didik mengetahui bagaimana model serta prinsip-prinsip pengajaran yang terjadi pada anak tuna netra total.







2
 

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

            Taman belajar Bhakti luhur ABEKA adalah sebuah lembaga yang menangani anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus dari sejak kecil hingga dewasa dari cacat kecil hingga yang paling besar. Sebagai taman belajar yang menjadi pusat pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, taman belajar ini menampung segala kekurangan yang ada pada individu untuk bisa belajar disana. Taman belajar yang berada di Kelurahan pisang candi Kecamatan Sukun kabupaten malang ini sekarang menjadi pusat dari seluruh taman belajar berkebutuhan khusus yang ada di Indonesia. Di taman belajar ini kita bisa mengetahui berbagai macam kekurangan-kekurangan yang terjadi serta kita mampu jadikan semangat pada diri kita masing-masing untuk selalu bersyukur tentang arti dari sebuah kesempurnaan.
            Pada taman belajar ini kebutuhan-kebutuhan khusus yang menjadi pokok pengajaran adalah dia yang mengalami tuna rungu, tuna wicara, tuna grahita, tuna netra, serta masih banyak lagi semuanya ada di taman belajar ini, tuna netra misalnya di taman belajar ini ada sekitar 16 anak yang mengalami tuna netra yang terdiri dari anak SD hingga anak SMA, model pengajaran yang diterapkan semuanya hampir sama semuanya tetap mengacu kepada totalitas, berkesinambungan, individual, keperagaan, serta aktivitas.
            Di kelas tuna netra ini kondisi kelas sudah layak, tenaga pengajar sudah cukup, hanya saja sarana untuk belajar bagi anak-anak penyandang tuna netra yang masih belum terfasilitasi secara lengkap sehingga proses pengajaran juga masih belum 100% berhasil. 
Anak penyandang tunanetra yang kami lakukan observasi ini semua masih kecil-kecil dan semuanya masih sangat semangat semangat dalam menjalani kehidupan yang ia jalani, ia tidak pernah memprotes ataupun tanya-tanya mengenai kenapa ia di lahirkan seperti itu kepada pengajarnya. Setiap hari di taman belajar ini selalu motivasi dan motivasi yang diberikan dengan harapan dengan diberikannya motivasi anak akan memiliki semangat hidup serta anak tidak tidak akan putus asa terhadap apa yang di alaminya.   


3
 

BAB III
TEMUAN PENELITIAN

Hasil Observasi
            Anak tuna netra total pada yayasan Bhakti Luhur ABEKA ini sebagian besar berasal dari luar daerah malang yang mana sebagian besar pengajarnya juga di datangkan langsung dari sabang sampai marauke, untuk mengajar anak yang memiliki kelainan khusus seperti ini pengajar harus memiliki kesabaran yang penuh, yang ekstra, dan mampu untuk memandu serta mengolala agar proses pembelajaran yang terjadi menjadi nyaman dirasakan oleh peserta didiknya.
            Dalam kelas tuna netra total ini metode pengajaran yang digunakan mengacu pada prinsip-prinsip pengajaran seperti, Totalitas, berkesinambungan, individu, keperagaan, aktivitas sehingga proses pembelajaran bisa terjadi serta dari lima prinsip ini jugalah yang menjadi acuan bagi para pengajar untuk bisa membimbing anak-anak penyandang tuna netra yang ada di yayasan Bhakti Luhur ABEKA ini.
            Dalam proses pembelajaran anak tuna netra ini sangat banyak sekali sarana penunjang yang harus terpenuhi agar pembelajaran bisa terjadi. Sepertihalnya, Reflet, stilus, kertas BC, Abajus, alat peraga, serta tongkat yang digunakan untuk teman keluar ruangan jika diperlukan.
4
            Dalam proses pembelajaran yang terjadi reflet berfungsi hampir sama dengan penggaris namun reflet memiliki fungsi yang utama yakni menjadi pembatas ketika anak akan menulis sehingga tulisan yang ia tulis tidak keluar sesuai dengan sasaran yang telah direncanakan, stilus dalam dunia tuna netra berfungsi hampir sama sebagai pena namun stilus tidak mengeluarkan tinta atau warna seperti pena pada umumnya stilus mampu menciptakan titik-titik yang bisa untuk mempermudah penyandang tuna netra untuk membaca, kertas BC adalah sejenis buku gambar yang memiliki ukuran ketebalan lebih dibanding dengan buku gambar yang ada, biasanya di taman Bhakti Luhur ini kertas BC di buat sendiri sesuai dengan ukuran serta ketebnalan yang di inginkan, Abajus adalah sarana bagi anak penyandang tuna netra untuk belajar berhitung sebagian pada umumnya bentuk alat ini sama dengan alat-alat hitung yang lain (ijiran) namun dalam yayasan Bhakti Luhur yang kami lakukan survei, alat ini belum bisa diajarkan pada peserta didiknya karena alat ini memiliki tingkat kesulitan yang lebih dibanding dengan alat-alat yang lainnya. Alat peraga adalah alat yang digunakan untuk peserta didik belajar mengenali bentuk-bentuk yang ada seperti anggur, apel, blimbing, macan, gajar dan yang lainnya itu bentuknya seperti apa, sedangkan tongkat adalah alat peraga yang memiliki fungsi-fungsi yang sama seperti tongkat yang kita ketahui selama ini
            Pada yayasan ini banyak sekali proses pembelajaran yang mengutamakan faktor-faktor kesehatan serta hiburan, seperti olahraga pada hari jumat dan sabtu yang mana aktifitasnya terdiri dari senam serta permainan sepakbola. Untuk hiburannya anak penyandang tuna netra di yayasan ini diajari musik yang mana dari dua aktifitas ini diharapkan jika telah lulus nanti peserta didik telah memiliki bekal untuk bisa lebih mandiri dalam menjalani kerasnya hidup. Anak-anak penyandang tuna netra yang ada juga dibekali ilmu-ilmu yang mampu di gunakan dalam dunia kerja seperti menyapu, mencuci piring, musik, serta menyanyi.
            Tanggung jawab yang diberikan oleh yayasan juga sangat besar terhadap kelangsungan jangka panjang bagi anak penyandang tuna netra ini, jika telah lulus nanti anak akan diberikan atau dicarikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kondisi yang ada sehingga anak akan mampu untuk hidup mandiri serta mampu untuk menjadi anak yang bisa dibanggakan dengan kondisi yang ada.






5

 


BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengertian tuna netra           
            Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya/kecacatannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (Low Visioan). Alat bantu untuk mobilitasnya bagi tuna netra dengan menggunakan tongkat khusus, yaitu berwarna putih dengan ada garis merah horizontal. Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebaginya sehingga tidak sedikit penyandang tuna netra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.
Tuna netra total adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan penglihatan secara penuh, jadi penglihatan seseorang tersebut sama sekali tidak bisa. Semua yang dia lihat hanyalah kegelapan tanpa ada cahaya sedikitpun yang bisa memberinya cahaya untuk mempermudah dalam penglihatannya.
Secara umum model pembelajaran seseorang yang mengalami tuna netra total dengan anak yang mengalami tuna netra biasa hampir sama, hanya saja proses pembelajaran untuk anak yang mengalami tuna netra total lebih difokuskan dalam pengaplikasian prinsip keperagaan jadi semua yang dilakukan oleh anak penyandang tuna netra total adalah memperagakan semua yang sudah menjadi aktivitas kesehariannya, setiap hari aktivitas yang ia lakukan sama.
6
Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru harus memungkinkan anak tunanetra mendapatkan pengalaman secara nyata dari apa yang dipelajarinya. Dalam bahasa Bower (1986) disebut sebagai pengalaman penginderaan langsung. Anak tunanetra tidak dapat belajar melalui pengamatan visual yang memiliki dimensi jarak, bunga yang sedang mekar, pesawat yang sedang terbang, atau seekor semut yang sedang mengangkut makanan. Strategi pembelajaran harus memungkinkan adanya akses langsung terhadap objek, atau situasi. Anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mendengar, mencium, mengecap, mengalami situasi secara langsung dan juga melihat bagi anak low vision. Prinsip ini sangat erat kaitannya dengan komponen alat/media dan lingkungan pembelajaran. Untuk memenuhi prinsip kekonkritan, perlu tersedia alat atau media pembelajaran yang mendukung dan relevan.

4.2 Yang dapat menyebabkan seseorang mengalami tuna netra
1. Pre-natal
Faktor penyebab ketunanetraan pada masa pre-natal sangat erat hubungannya dengan masalah keturunan dan pertumbuhan seorang anak dalam kandungan, antara lain:
a. Keturunan
Ketunanetraan yang disebabkan oleh faktor keturunan terjadi dari hasil perkawinan bersaudara, sesama tunanetra atau mempunyai orang tua yang tunanetra. Ketunanetraan akibat faktor keturunan antara lain Retinitis Pigmentosa, penyakit pada retina yang umumnya merupakan keturunan. Penyakit ini sedikit demi sedikit menyebabkan mundur atau memburuknya retina. Gejala pertama biasanya sukar melihat di malam hari, diikuti dengan hilangnya penglihatan periferal, dan sedikit saja penglihatan pusat yang tertinggal.
b. Pertumbuhan seorang anak dalam kandungan
Ketunanetraan yang disebabkan karena proses pertumbuhan dalam kandungan dapat disebabkan oleh:
  • Gangguan waktu ibu hamil.
  • Penyakit menahun seperti TBC, sehingga merusak sel-sel darah tertentu selama pertumbuhan janin dalam kandungan.
  • Infeksi atau luka yang dialami oleh ibu hamil akibat terkena rubella atau cacar air, dapat menyebabkan kerusakan pada mata, telinga, jantung dan sistem susunan saraf pusat pada janin yang sedang berkembang.
  • 7
    Infeksi karena penyakit kotor, toxoplasmosis, trachoma dan tumor. Tumor dapat terjadi pada otak yang berhubungan dengan indera penglihatan atau pada bola mata itu sendiri.
  • Kurangnya vitamin tertentu, dapat menyebabkan gangguan pada mata sehingga hilangnya fungsi penglihatan.
1.      Post-natal
Penyebab ketunanetraan yang terjadi pada masa post-natal dapat terjadi sejak atau setelah bayi lahir antara lain:
a.       Kerusakan pada mata atau saraf mata pada waktu persalinan, akibat benturan alat-alat atau benda keras.
  1. Pada waktu persalinan, ibu mengalami penyakit gonorrhoe, sehingga baksil gonorrhoe menular pada bayi, yang pada ahkirnya setelah bayi lahir mengalami sakit dan berakibat hilangnya daya penglihatan.
  2. Mengalami penyakit mata yang menyebabkan ketunanetraan, misalnya:
·         Xeropthalmia; yakni penyakit mata karena kekurangan vitamin A.
·         Trachoma; yaitu penyakit mata karena virus chilimidezoon trachomanis.
·         Catarac; yaitu penyakit mata yang menyerang bola mata sehingga lensa mata menjadi keruh, akibatnya terlihat dari luar mata menjadi putih.
·         Glaucoma; yaitu penyakit mata karena bertambahnya cairan dalam bola mata, sehingga tekanan pada bola mata meningkat.
·         Diabetik Retinopathy; adalah gangguan pada retina yang disebabkan karena diabetis. Retina penuh dengan pembuluh-pembuluh darah dan dapat dipengaruhi oleh kerusakan sistem sirkulasi hingga merusak penglihatan.
·         Macular Degeneration; adalah kondisi umum yang agak baik, dimana daerah tengah dari retina secara berangsur memburuk. Anak dengan retina degenerasi masih memiliki penglihatan perifer akan tetapi kehilangan kemampuan untuk melihat secara jelas objek-objek di bagian tengah bidang penglihatan.
·        
8
Retinopathy of prematurity; biasanya anak yang mengalami ini karena lahirnya terlalu prematur. Pada saat lahir masih memiliki potensi penglihatan yang normal. Bayi yang dilahirkan prematur biasanya ditempatkan pada inkubator yang berisi oksigen dengan kadar tinggi, sehingga pada saat bayi dikeluarkan dari inkubator terjadi perubahan kadar oksigen yang dapat menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah menjadi tidak normal dan meninggalkan semacam bekas luka pada jaringan mata. Peristiwa ini sering menimbulkan kerusakan pada selaput jala (retina) dan tunanetra total.
·         Kerusakan mata yang disebabkan terjadinya kecelakaan, seperti masuknya benda keras atau tajam, cairan kimia yang berbahaya, kecelakaan dari kendaraan, dll.
4.3 Karakteristik Anak Tunanetra
1. Fisik (Physical)
Keadaan fisik anak tunanetra tidak berbeda dengan anak sebaya lainnya. Perbedaan nyata diantara mereka hanya terdapat pada organ penglihatannya.
Gejala tunanetra yang dapat diamati dari segi fisik diantaranya :
  • Mata juling
  • Sering berkedip
  • Menyipitkan mata
  • (kelopak) mata merah
  • Mata infeksi
  • Gerakan mata tak beraturan dan cepat
  • Mata selalu berair (mengeluarkan air mata)
  • Pembengkakan pada kulit tempat tumbuh bulu mata.
2. Perilaku (Behavior)
a.      Ada beberapa gejala tingkah laku yang tampak sebagai petunjuk dalam mengenal anak yang mengalami gangguan penglihatan secara dini :
·         Menggosok mata secara berlebihan.
·         Menutup atau melindungi mata sebelah, memiringkan kepala atau mencondongkan kepala ke depan.
·         Sukar membaca atau dalam mengerjakan pekerjaan lain yang sangat memerlukan penggunaan mata.
·        
9
Berkedip lebih banyak daripada biasanya atau lekas marah apabila mengerjakan suatu pekerjaan.
·         Membawa bukunya ke dekat mata.
·         Tidak dapat melihat benda-benda yang agak jauh.
·         Menyipitkan mata atau mengkerutkan dahi.
·         Tidak tertarik perhatiannya pada objek penglihatan atau pada tugas-tugas yang memerlukan penglihatan seperti melihat gambar atau membaca.
·         Janggal dalam bermain yang memerlukan kerjasama tangan dan mata.
·         Menghindar dari tugas-tugas yang memerlukan penglihatan atau memerlukan penglihatan jarak jauh.
b.      Penjelasan lainnya berdasarkan adanya beberapa keluhan seperti :
·         Mata gatal, panas atau merasa ingin menggaruk karena gatal.
·         Banyak mengeluh tentang ketidakmampuan dalam melihat.
·         Merasa pusing atau sakit kepala.
·         Kabur atau penglihatan ganda.
3. Psikis
Secara psikis anak tunanetra dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Mental/intelektual
Intelektual atau kecerdasan anak tunanetra umumnya tidak berbeda jauh dengan anak normal/awas. Kecenderungan IQ anak tunanetra ada pada batas atas sampai batas bawah, jadi ada anak yang sangat pintar, cukup pintar dan ada yang kurang pintar. Intelegensi mereka lengkap yakni memiliki kemampuan dedikasi, analogi, asosiasi dan sebagainya. Mereka juga punya emosi negatif dan positif, seperti sedih, gembira, punya rasa benci, kecewa, gelisah, bahagia dan sebagainya.
b. Sosial
10
Hubungan sosial yang pertama terjadi dengan anak adalah hubungan dengan ibu, ayah, dan anggota keluarga lain yang ada di lingkungan keluarga. Kadang kala ada orang tua dan anggota keluarga yang tidak siap menerima kehadiran anak tunanetra, sehingga muncul ketegangan, gelisah di antara keluarga. Akibat dari keterbatasan rangsangan visual untuk menerima perlakuan orang lain terhadap dirinya.
Tunanetra mengalami hambatan dalam perkembangan kepribadian dengan timbulnya beberapa masalah antara lain:
1.      Curiga terhadap orang lain
2.      Perasaan mudah tersinggung
3.      Ketergantungan yang berlebihan

4.      Akademis
Karakteristik Anak Tunanetra dalam Aspek Akademis Tilman & Osborn (1969) menemukan beberapa perbedaan antara anak tunanetra dan anak awas.
  1. Anak tunanetra menyimpan pengalaman-pengalaman khusus seperti halnya anak awas, namun pengalaman-pengalaman tersebut kurang terintegrasikan.
  2. Anak tunanetra mendapatkan angka yang hampir sama dengan anak awas, dalam hal berhitung, informasi, dan kosakata, tetapi kurang baik dalam hal pemahaman (comprehention) dan persaman.
  3. Kosa kata anak tunanetra cenderung merupakan kata-kata yang definitif.

4.4 Model pembelajaran dan prinsip-prinsip pengajaran tuna netra
Permasalahan strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra didasarkan pada dua pemikiran, yaitu :
1.      Upaya memodifikasi lingkungan agar sesuai dengan kondisi anak (di satu sisi).
2.      Upaya pemanfaatan secara optimal indera-indera yang masih berfungsi, untuk mengimbangi kelemahan yang disebabkan hilangnya fungsi penglihatan (di sisi lain).

11
Strategi pembelajaran dalam pendidikan anak tunanetra pada hakekatnya adalah strategi pembelajaran umum yang diterapkan dalam kerangka dua pemikiran di atas. Pertama-tama guru harus menguasai karakteristik/strategi pembelajaran yang umum pada anak-anak awas, meliputi tujuan, materi, alat, cara, lingkungan, dan aspek-aspek lainnya. Langkah berikutnya adalah menganalisis komponen-komponen mana saja yang perlu atau tidak perlu dirubah/dimodifikasi dan bagaimana serta sejauh mana modifikasi itu dilakukan jika perlu. Pada tahap berikutnya, pemanfaatan indera yang masih berfungsi secara optimal dan terpadu dalam praktek/proses pembelajaran memegang peran yag sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar.

Dalam pembelajaran anak tunanetra, terdapat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, antara lain :

a.      Prinsip totalitas
                       Strategi pembelajaran yang dilakukan guru haruslah memungkinkan siswa untuk memperoleh pengalaman objek maupun situasi secara utuh dapat terjadi apabila guru mendorong siswa untuk melibatkan semua pengalaman penginderaannya secara terpadu dalam memahami sebuah konsep. Dalam bahasa Bower (1986) gagasan ini disebut sebagai multi sensory approach, yaitu penggunaan semua alat indera yang masih berfungsi secara menyeluruh mengenai suatu objek. Untuk mendapatkan gambaran mengenai burung, anak tunanetra harus melibatkan perabaan untuk mengenai ukuran bentuk, sifat permukaan, kehangatan. Dia juga harus memanfaatkan pendengarannya untuk mengenali suara burung dan bahkan mungkin juga penciumannya agar mengenali bau khas burung. Pengalaman anak mengenai burung akan menjadi lebih luas dan menyeluruh dibandingkan dengan anak yang hanya menggunakan satu inderanya dalam mengamati burung tersebut. Hilangnya penglihatan pada anak tunanetra menyebabkan dirinya menjadi sulit untuk mendapatkan gambaran yang utuh/menyeluruh mengenai objek-objek yang tidak bisa diamati secara seretak (suatu situasi atau benda berukuran besar). Oleh sebab itu, perabaan dengan beberapa tekhnik penggunaannya menjadi sangatlah penting.

b.      Berkesinambungan
12
                 Prinsip / strategi pembelajaran ini sebagian besar menggunakan sarana sebagai alat untuk belajar, peserta didik dikenalkan bagai mana bentuk buah blimbing, apel, salak, sayur bayam, kangkung, terong serta bagai mana kita mendapatkannya, untuk apa sayur / buah ini, termasuk ke dalam bagian sayur atau buahkah bentuk ini. Sehingga dari prinsip seperti ini peserta didik tidak hanya mengerti bentuknya saja melainkan anak akan mengetahui bentuknya, kandungannya, kegunaannya, manfaatnya, rasanya serta masih banyak lagi yang bisa di ketahuii dari prinsip ini yang mana diharapkan peserta didik mengetahui secara lengkap tentang benda yang ia kenal.

c.       Prinsip keperagaan / pengalaman penginderaan
Strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru harus memungkinkan anak tunanetra mendapatkan pengalaman secara nyata dari apa yang dipelajarinya. Dalam bahasa Bower (1986) disebut sebagai pengalaman penginderaan langsung. Anak tunanetra tidak dapat belajar melalui pengamatan visual yang memiliki dimensi jarak, bunga yang sedang mekar, pesawat yang sedang terbang, atau seekor semut yang sedang mengangkut makanan. Strategi pembelajaran harus memungkinkan adanya akses langsung terhadap objek, atau situasi. Anak tunanetra harus dibimbing untuk meraba, mendengar, mencium, mengecap, mengalami situasi secara langsung dan juga melihat bagi anak low vision. Prinsip ini sangat erat kaitannya dengan komponen alat/media dan lingkungan pembelajaran. Untuk memenuhi prinsip kekonkritan, perlu tersedia alat atau media pembelajaran yang mendukung dan relevan. Pembahasan mengenai alat pembelajaran akan disampaikan pada bagian khusus.

d.      Prinsip Individual
Prinsip individual adalah prinsip umum dalam pembelajaran manapun (PLB maupun pendidikan umum) guru dituntut untuk memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individu. Dalam pendidikan tunanetra, dimensi perbedaan individu itu sendiri menjadi lebih luas dan kompleks. Di samping adanya perbedaan-perbedaan umum seperti usia, kemampuan mental, fisik, kesehatan, sosial, dan budaya, anak tunanetra menunjukkan sejumlah perbedaan khusus yang terkait dengan ketunanetraannya (tingkat ketunanetraan, masa terjadinya kecacatan, sebab-sebab ketunanetraan, dampak sosial-psikologis akibat kecacatan, dll). Secara umum, harus ada beberapa perbedaan layanan pendidikan antara anak low vision dengan anak yang buta total. Prinsip layanan individu ini lebih jauh mengisyaratkan perlunya guru untuk merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan anak. Inilah alasan dasar terhadap perlunya (Individual Education Program – IEP).

e.       Prinsip aktivitas mandiri (selfactivity)
13
Strategi pembelajaran haruslah memungkinkan atau mendorong anak tunanetra belajar secara aktif dan mandiri. Anak belajar mencari dan menemukan, sementara guru adalah fasilitator yang membantu memudahkan siswa untuk belajar dan motivator yang membangkitkan keinginannya untuk belajar. Prinsip ini pun mengisyaratkan bahwa strategi pembelajaran harus memungkinkan siswa untuk bekerja dan mengalami, bukan mendengar dan mencatat. Keharusan ini memiliki implikasi terhadap perlunya siswa mengetahui, menguasai, dan menjalani proses dalam memperoleh fakta atau konsep. Isi pelajaran (fakta, konsep) adalah penting bagi anak, tetapi akan lebih penting lagi bila anak menguasai dan mengalami guna mendapatkan isi pelajaran tersebut.
14

 


BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan

           Pendidikan merupakan sebuah sarana bagi seorang peserta didik untuk mendapatkan ilmu serta dapat diaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari, jika ilmu yang ia dapat bermanfaat maka kehidupannya juga akan menjadi lebih bermanfaat pula, untuk mencapai itu tentunya tidak hanya orang normal saja yang berhak tetapi dia yang memiliki kebutuhan khusus juga berhak untuk mendapatkan pengajaran yang layak serta ilmu yang bermanfaat itu sehingga hidupnya juga akan bisa bermanfaat bagi orang lain meskipun ia memiliki kebutuhan khusus.
           Dalam pentransferan ilmu anak yang memiliki kebutuhan khusus (tuna netra) ini secara umum hampir sama dengan kita namun model pengajarannya yang membedakan kita dengan mereka. Tidak sedikit dari penyandang tuna netra yang berhasil dan sukses dalam berbisnis itupun karena ia juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat dikala ia masih belajar.
           Tuntutan untuk mengajar lebih dekat sangat diperlukan dikala kita mengajar anak anak yang memiliki kebutuhann khusus seperti ini, karena kita harus tau juga bahwa anak-anak seperti ini adalah dia yang sangat rentan untuk curiga terhadap ornag lain, perasaannya mudah tersinggung, serta anak-anak seperti ini juga memeiliki ketergantungan yang lebih kepada orang lain / pengajar sehingga disaat proses belajar mengajar kita harus selalu ada buat dia.  

V.2 Saran
           Manusia tidak ada yang sempurna dan kesempurnaan hanyalah untuk-Nya. Jika kondisi kita dilahirkan normal kita harus selalu bersukur dan ingatlah Dia yang banyak serta perbanyaklah amal ibadah kita, apa yang akan kita lakukan jika yang terjadi pada anak-anak itu juga terjadi pada kita. Semoga saja kita semua mampu menjadi generus bangsa yang bisa untuk saling menghargai antar perbedaan yang terjadi ini.
15
 

DAFTAR PUSTAKA

·         Prof. Abdoellah Arma, M.Sc.1996. Pendidikan Jasmani Adaptif. Jakarta
·         Ajat Darajat K.N.2007.  Pengertian tuna netra http://ykai.net/index.php option=com_content&task=view&id=195&Itemid=68. Diakses tanggal 02 April 2011 jam 19.20 WIB.
·         Romahdon Saifur. 2008. Prinsip pengajaran bagi tuna netra. http://Saifur_Kaconk. Diakses tanggal 02 April 19.25



Tidak ada komentar:

Share It